ANALISIS PENERAPAN ASAS-ASAS GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA PT. GAWI MAKMUR KALIMANTAN

ANALISIS PENERAPAN ASAS-ASAS GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA PT. GAWI MAKMUR KALIMANTAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan asas-asas Good Corporate Governance di PT Gawi Makmur Kalimantan sebagai salah satu perusahaan keluarga yang bergerak dibidang distributor produk rumah tangga yang berada di Banjarmasin. Penelitian ini penting karena peran Good Corporate Governance dalam perusahaan keluarga adalah untuk membangun perusahaan yang sehat sehingga dapat menunjang kelangsungan hidup perusahaan.

Jenis penelitian ini adalah studi kasus kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data adalah analisis deskriptif dengan menggambarkan karakteristik narasumber, menghitung data yang diperoleh dari kuesioner, menghitung dan menganalisis skor penerapan asas-asas GCG.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan persepsi karyawan, PT Gawi Makmur Kalimantan telah menerapkan asas-asas Good Corporate Governance dengan klasifikasi baik. Skor dari penerapan asas GCG tersebut adalah untuk asas kewajaran dan kesetaraan 83,67, responsibilitas 82,5, independensi 82, transparansi 81,6 dan akuntabilitas dengan skor 79,6.

Selengkapnya Kutip Di:
https://ejournal.stiabinabanuabjm.ac.id/index.php/administraus/article/view/129
(Opini) Pendidikan Berbasis Keluarga di Sekolah

(Opini) Pendidikan Berbasis Keluarga di Sekolah

PROKAL.CO, Ketika mendengar dan melihat perkelahian pelajar baik di media cetak maupun di media elektronik, tergambar lah ketakutan orang tua tentang dunia pendidikan selama ini. Di era tujuh puluhan maupun delapan puluhan sangat jarang sekali terdengar hal seperti itu. Yang lebih menyayat hati bagi dunia pendidikan adalah perlakuan atau tindakan orang tua murid terhadap guru yang sampai berbuah ke ranah hukum.

Pertanyaan yang timbul dari orang tua “Adakah yang salah dari dunia pendidikan kita ini? Atau kah karena telah terkikis moral etika pendidikan kita? Menjawab pertanyaan ini perlu ditinjau dari berbagai sudut dan kajian yang komprehensif.

Dalam hal ini penulis mencoba dari sudut kekeluargaan, yang mungkin kita sudah terlupakan dikarenakan arus perkembangan zaman dan moderenisasi kehidupan.

Anjangsana kelas

Berkunjung ke kelas yang berbeda pada saat pelajaran berlangsung dengan didampingi oleh guru yang pada saat itu mengajar akan mengubah suasana yang berbeda, walaupun siswa-siswi pernah tahu satu sama lain tapi apabila berkunjung ke kelasnya secara moral akan saling menghargai. Terjadi interaksi satu sama lain, keceriaan yang timbul tidak terlepas dari siswa. Yang biasanya hanya tahu wajahnya sekarang mereka saling kenal. Sebagai ilustrasi kita bertetangga atau bersaudara walaupun kita sudah saling kenal akan tetapi sangat jauh berbeda jika kalau kita berajangsana ke rumah, apa yang terjadi keakraban dan canda ria serta suasana kekeluargaan.

Sekolah memprogramkan kegiatan tersebut paling tidak satu minggu satu kali anjangsana ke kelas lain. Kegiatan yang dilakukan saling memperkenalkan diri atau seandainya lebih memungkinkan saling berdiskusi tetang topic yang menjadi trend di kalangan pelajar.

Kelas Orang tua

Orang tua berkepentingan mengantar anaknya pada waktu pertama kali sekolah di PAUD, banyak orang tua dengan senang dan gembiranya melihat anaknya masuk kelas dengan terang-terangan atau juga sembunyi-sembunyi untuk melihat aktivitas dan prilaku anak nya di kelas. Pemandangan seperti ini lazim terlihat di PAUD akan tetapi perlahan tapi pasti kegiatan orang tua pada jenjang pendidikan dasar atau juga SMP apalagi pada tingkat menengah (SMA/SMK) sungguh merupakan pemandangan yang langka terlihat. Keberadaan orang tua hanya terlihat ketika anaknya mendaftarkan masuk sekolah, setelah itu menjadi suatu pemandangan yang aneh seandainya orang tua memperhatikan anaknya berkativitas di dalam kelas atau melihat seperti di PAUD. Kedatangan orang tua ke sekolah terkadang di karenakan ada permasalahan dari pihak sekolah bukan karena keinginan orang tua untuk memperhatikan aktivitas anaknya di sekolah.

Kelas orang tua ini diperlukan untuk mengatasi hal tersebut, pihak sekolah memfasilitasi pertemuan antara wali kelas dan orang tua untuk membicarakan program-program sekolah dan dengan adanya kelas orang tua maka pihak orang tua bisa mengetahui perkembangan aktivitas serta apa saja fasilitas yang dapat digunakan anaknya di sekolah. Diskusi ini bisa menimbulkan kepercayaan orang tua bahwa anaknya bersekolah ditempat yang tepat yang dapat merubah prilaku anaknya secara langsung seperti yang disampaikan oleh wali kelas. Program kelas orang tua sebaiknya dilakukan di awal tahun pelajaran atau lebih baik lagi pada saat habis Ulangan Tengah Semester.

Kelas Inspiratif

Program ini dengan melihat latar belakang orang tua siswa-siswi yang beragam sehingga ada diantara orang tua siwa-siswi yang memiliki profesi dan pendidikan yang dapat menginpirasi sekolah secara umum dan siswa-siswi secara khusus. Kegiatan dilaksanakan bisa dilakukan antara lain; a) pada saat hari Senin dalam upacara bendera sebagai Pembina upacara. Bagi anak yang orang tuanya sebagai Pembina upacara akan menimbulkan kebangaan tersendiri. Secara moral ikatan batin antara orang tua dan anak akan terjalin suasana kekeluargaan dan kekaguman dia terhadap sosok bapaknya dimata teman-teman akan memotivasi siswa/siswi menjadi lebih baik kedepannya, b) Forum Ilmiah yang dilaksanakan oleh pihak sekolah sebagai pembicara atau pemateri, c) program Jumat GLS (Gerakan Literasi Sekolah) yang pelaksanaanya dua minggu atau satu bulan sekali sebagai pembicara dihadapan guru dan siswa

Pendekatan dengan menggunakan Pendidikan Berbasis Keluarga di sekolah memungkinkan terhindarnya bentrok atau juga group-group di kalangan siswa-siswi yang ada di sekolah. Kesalahan pahaman orang tua terhadap guru dalam memberikan suatu tindakan yang bersifat mendidik akan bisa terhapuskan. Seperti yang kita ketahui bahwa karakter bangsa Indonesia adalah bersifat kekeluarga, musyawarah dan mufakat. Jalinan tersebut tidak akan terjadi seandainya pihak sekolah kurang memfasilitasi komunikasi sesama kepentingan sehingga menghilangkan image bahwa guru hanya mengajar, orang tua hanya menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah, sedangkan murid menjadi objeknya.()

Dr. Dra. Iswiyati Rahayu, M.Si.

* Ketua Program Pascasarjana STIA Bina Banua

Terbit di Radar Banjarmasin Link http://kalsel.prokal.co/read/news/4904-opini-pendidikan-berbasis-keluarga-di-sekolah.html

[OPINI] Menanti Museum Bekantan di Siring Tendean

[OPINI] Menanti Museum Bekantan di Siring Tendean

Oleh: Gerilyansyah Basrindu
Dosen STIA Bina Banua Banjarmasin

Siring Tendean Banjarmasin yang dibangun di era Wali Kota H Muhidin sekarang ini, ternyata mampu menarik pengunjung/wisatawan, khususnya wisatawan lokal dan sebagian wisatawan asing. Daya tarik daerah Jalan Kapten Piere Tendean adalah siringnya yang panjang dan tertata rapi. Setiap pagi dan sore sering digunakan oleh pengunjung untuk jogging (jalan kaki/ lari pagi).

Pada pagi Sabtu dan Minggu digunakan untuk olahraga senam massal berbagai komunitas. Sore Sabtu, malam Minggu, dan pagi Minggu dijadikan tempat tambat pasar terapung yang berjualan berbagai makanan dan buah-buahan khas lokal.

Pokoknya Siring Tendean segera berfungsi sebagai objek wisata yang banyak dikunjungi orang di tengah Kota Banjarmasin. Sayangnya, bangunan-bangunan yang menghadap ke Siring belum menunjang keberadaannya sebagai tempat wisata, karena sebagian besar masih berfungsi sebagai tempat perkantoran. Seiring dengan tuntutan perubahan, ke depan sebaiknya bangunan-bangunan ini dapat beralih fungsi sebagai tempat penjualan oleh-oleh, souvenir dan pusat kuliner dan sarana pendukung lainnya.

Bekantan atau probocsis monkey yang dalam bahasa ilmiahnya dikenal sebagai Nasalis Larvatus oleh Lembaga Konservasi Internasional (Internasional Union for Conservation of Nature and Natural Resources) sejak 2011 telah ditetapkan sebagai salah satu jenis fauna di dunia yang termasuk katagori langka (endangered) dan memiliki ancaman kepunahan.

Menurut Amalia Rezeki SPd MPd, Ketua Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Biodiversitas Indonesia), bekantan di Kalsel kini ancaman kepunahannya semakin meningkat. Ancaman kepunahan ini, menurut Rektor Unlam Prof Dr H Sutarto Hadi MSi MSc yang juga sebagai Pembina Biodiversitas Indonesia), diakibatkan deforestasi dan alih fungsi lahan serta perburuan maupun perdagangan satwa liar (hal inilah yang perlu kita cegah bersama).

Populasi Bekantan di Kalsel, berdasarkan data di BKSDA Kalsel 2007 diperkirakan berjumlah 5.010 ekor. Di antaranya tersebar di berbagai wilayah terutama yang masuk dalam kawasan cagar alam sbb: 1. Cagar alam Pulau Sebuku terdapat 3.500 ekor; 2. Suaka Margasatwa Pelihari 1.200 ekor; 3. Kuala Lupak Tabunganen 150 ekor; 4. Pulau Kembang 10 ekor, dan 5. Pulau Kaget Jembatan Barito 100 ekor, namun berdasarkan monitoring BKSDA Kalsel, lima tahun kemudian hanya tinggal 12 ekor, dan monitoring 2013 tercatat menjadi 26 ekor.

Karena itu, bekantan juga termasuk dalam katagori satwa appendiks I berdasarkan CITES (Conservation on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang dilarang diperdagangkan secara internasional, kecuali hasil penangkaran dan dalam keadaan tertentu yang dianggap luar biasa.

Pemprov Kalimantan Selatan pada 1990 berdasarkan SK Gubernur No 29 tahun 1990 telah menetapkan bekantan sebagai identitas “Maskot” daerah. Dan, penetapannya telah disetujui oleh DPRD Tk I Kalsel pada 28 Maret 1990. Namun demikian, peran pemerintah terhadap perlindungan maskot Kalsel ini masih terasa belum optimal.

Beberapa tahun kemudian, pemprov membuat Taman Maskot di Jalan AS Mustafa (depan Kantor Harian Banjarmasin Post). Banjarmasin Post selama ini juga berperan besar dalam mempromosikan bekantan sebagai Maskot Kalsel, dan bahkan menjadikan/memberikan Boneka Bekantan sebagai cenderamata kepada tamu dan relasinya.

Sahabat Bekantan Indonesia

Pada 2013 dibentuk sebuah organisasi masyarakat berbadan hukum dengan nama Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Biodiversitas Indonesia) yang bergerak di bidang penelitian, pendidikan, pengabdian masyarakat dan konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Salah satu program andalannya mendirikan komunitas Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) dengan misi “Save Our Mascot”.

Sejak 2014 SBI telah mengukuhkan “Duta Bekantan” bertepatan dengan hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Kemudian, Biodiversitas Indonesia, pada tahun yang sama juga telah memublikasikan buku tentang Profil Sahabat Bekantan Indonesia yang dapat dijadikan rujukan teraktual tentang Bekantan di Kalimantan Selatan.

Upaya Save our Mascot Kalsel ini perlu terus didukung aktivitasnya. Sebentar waktu lagi, di Siring Tendean dibangun sebuah patung Bekantan seperti patung MerLion di Singapura. Baliho pembangunan Patung Bekantan ini sudah terpasang di depan Siring Tendean. Dalam baliho tersebut Patung Bekantan itu digambarkan mengeluarkan air mancur yang indah, sehingga nantinya menjadi daya tarik pengunjung untuk menyaksikannya dan berfoto bersama di patung Bekantan.

Jika kita berwisata ke Singapura, tidak afdal rasanya kalau tidak berkunjung dan berfoto di patung Merlion. Demikian juga harapan kita, nantinya setiap orang yang berwisata ke Banjarmasin, juga tidak afdal kalau tidak menyaksikan dan berfoto bersama patung Bekantan tersebut.

Pusat Informasi

Untuk menyosialisasikan mengenai Bekantan, selain berbagai program dan kegiatan yang sudah ada, penulis mengusulkan didirikannya sebuah “Museum Bekantan”. Dalam museum ini nantinya, selain memuat contoh bekantan, juga memuat berbagai tulisan, berita-berita, gambar/foto, dokumen, hasil-hasil penelitian, dan film-film tentang Bekantan ataupun ditambah dengan berbagai informasi jenis-jenis monyet di dunia. Museum Bekantan berfungsi sebagai pusat edukasi/pendidikan tentang Bekantan, yang juga akan dikunjungi oleh anak-anak sekolah dan masyarakat.

Di Museum itu nantinya juga dapat dipromosikan/dijual berbagai jenis barang kerajinan/souvenir/maskot boneka bekantan dan khas Kalimantan Selatan lainnya. Hal ini, akan sangat membantu percepatan dan kemudahan informasi pengenalan tentang Bekantan dan Kalsel, khususnya bagi mereka yang tidak sempat melihat langsung kehidupan nyata Bekantan di habitatnya dalam hutan seperti di Pulau Bakut. Memang, tidak semua orang Kalsel mengenal Bekantan sebagai maskot daerahnya, apalagi sampai berkunjung melihat ke habitatnya di alam liar.

Penulis mengusulkan, untuk tahap awal Pemko Banjarmasin dapat menyediakan dan mendesain beberapa ruangan yang tersedia di Menara Pandang Siring Tendean untuk embrio Museum Bekantan. Sedangkan konten atau materinya dapat memberdayakan atau bekerja sama dengan komunitas Sahabat Bekantan Indonesia yang sudah eksis.

Kehadiran Museum Bekantan sebagai pusat informasi di Siring Tendean yang keberadaannya tidak jauh dari Patung Bekantan nantinya, merupakan satu rangkaian sinergi objek wisata di Banjarmasin, sekaligus sebagai pusat edukasi bagi masyarakat. Usulan ini terinspirasi dari kunjungan penulis beberapa tahun lalu ke salah satu tujuan wisata di kota Kuching, yaitu Museum Kucing di Serawak, Malaysia. Save Our Mascot. (*)

Editor: BPost Online