[ALUMNI] Tekuni Pekerjaan, Bangga Lapas Bontang jadi Tempat Study Banding

[ALUMNI] Tekuni Pekerjaan, Bangga Lapas Bontang jadi Tempat Study Banding

Kisah Inspiratif Warga Bontang: Heru Yuswanto (195)

PROKAL.CO, Tak pernah bermimpi menjadi Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas), putra daerah yang berasal dari Pelaihari, Kalimantan Selatan (Kalsel) ini sukses memimpin Lapas kelas III Bontang dengan konsep humanis. Tanpa ada kerusuhan di Lapas, maupun ketegangan di dalam ruang tahanan.

Mega Asri, Bontang

Terlahir dari orang tua dengan ekonomi sederhana 44 tahun silam, Heru merupakan anak bontot dari 5 bersaudara. Ayahnya yang merupakan seorang PNS, kehabisan biaya menyekolahkan kakak-kakaknya. Setelah lulus SMA, karena merasa orang tuanya sudah tak mampu menyekolahkannya ke jenjang lebih tinggi, Heru mencoba mencari beasiswa.

Memiliki cita-cita awal sekolah di Akademi Militer, namun kemudian dirinya mengubur dalam cita-cita tersebut. Hingga akhirnya “kecantol” di Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP). “Cita-cita saya, bisa meneruskan sekolah tanpa biaya, dua kali daftar tidak pernah diterima, akhirnya tahun ketiga, saya diterima di AKIP tanpa uang sepeser pun,” akunya mengawali perjalanannya hingga sukses menjadi Kalapas.

Heru mengaku, sejak SMA, dirinya sudah aktif dalam berbagai organisasi. Bahkan, dirinya selalu menjadi ketua OSIS, mengikuti jambore, pramuka, marching band yang pernah meraih juara 1 di Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan.

Tahun 1995 masuk AKIP dan lulus tahun 1998 langsung ditempatkan bekerja di Lapas Martapura, Kalsel. Tak puas dengan ilmu D3 dari AKIP, Heru lantas mencari keberuntungan untuk kuliah S1 dan mencari beasiswa di Kementerian Hukum dan HAM.

Setelah diterima di STIA Bina Banua Banjarmasin, saat lulus Heru langsung mendapat promosi jabatan. Menjabat selama satu tahun, dirinya mencari lagi beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 di Unhas dan UI. Diterima di UI dengan mengambil jurusan psikologi kriminal. “Saya sebenarnya kurang sreg dengan hukum, karena saya hobi bergaul, makanya saya ambil jurusan psikolog, dan saya dapat beasiswa full dari kementerian,” ujarnya.

Setelah lulus S2, Heru kemudian ditempatkan bekerja di Rumah Tahanan (rutan) Pondok Bambu Jakarta Timur. Dirinya juga dipromosikan sebagai Kasubsi Registrasi Lapas Narkotika Jakarta. “Saat itu, Lapas narkotika di Cipinang itu baru berdiri dengan jumlah warga binaan sebanyak 3 ribu orang, saya menjabat selama 4 bulan langsung dipromosikan menjadi kepala keamanannya,” ungkapnya.

Karena merasa berasal dari daerah, Heru merasa bingung saat ditempatkan di Jakarta. Tetapi, karena basic dari psikologi, maka dirinya mencoba membiasakan bertemu banyak orang dengan berbagai karakter. Dan mulai bersikap santai, serta menganggap warga binaan sebagai sahabat, bukan nara pidana (napi). “Selama di sana, duka yang saya alami jika ada kerusuhan antar club hingga membuat korban tewas. Di Cipinang juga, saya menangani berbagai mantan pejabat, preman, menteri dan pengusaha,” bebernya.

Baginya, pegawai Lapas dianggap sebagai ‘manusia setengah dewa’. Karena secara tidak langsung, semua pegawai Lapas dituntut bisa menguasai segala bidang. Baik sebagai guru, sebagai ustaz, sebagai konselor, bahkan harus bisa menjadi teman bagi para warga binaan. Semuanya merupakan tuntutan pekerjaan.

Pengalaman selama di Cipinang pun, dia pakai untuk menangani beragam karakter orang. Akhirnya, Heru mendapat promosi sebagai kepala Rutan termuda pada usia 35 tahun di Rutan Landak Kalimantan Barat (Kalbar). “Dari awalnya menangani 3 ribu warga binaan, di Rutan Landak, hanya terdapat 37 orang dengan petugas sebanyak 2 orang,” ujarnya.

Dua petugas tersebut, kenang dia, terlihat sangat stres menjaga 37 warga binaan. Awal menjabat, suasana tegang masih terasa. Namun lambat laun, Heru mencoba mengubahnya dengan konsep humanis.

Jadi yang sudah divonis sebanyak 20 orang tersebut, dia coba mengeluarkannya dari Rutan untuk melakukan kegiatan positif, mulai dari lari pagi, atau mencari singkong. “Kami coba buktikan bahwa mereka merupakan sahabat dan saudara kami, karena jika napi dijaga ketat, mereka selalu ingin mencari celah untuk keluar,” terang dia.

Sehingga, saat para warga binaan dianggap sebagai teman dan sahabat, mereka tidak akan pernah berpikir untuk melarikan diri. Akhirnya, para petugas mulai berinteraksi dengan tetap menjaga keamanan. “Meskipun mereka dikeluarkan, kami sudah siapkan strategi pengamanannya,” sebut dia.

Menjabat selama 10 bulan, Heru dipindah menjadi Karutan Rantau di Kalsel. Karena merupakan kampung halaman, pria bertubuh gempal tersebut merasa kerasan dengan suasananya yang agamis. Empat tahun menjabat, Heru kemudian dicari orang pemerintah pusat dan diminta keluar dari Kalsel. “Belum tahu mau dipindah kemana, tetapi saya selalu berdoa, jika amanat tersebut cocok dan berkah maka berikan yang terbaik, tetapi saya ditempatkan dimana pun siap, tanpa jabatan pun saya siap,” tegasnya.

Juni 2016, Heru ditunjuk untuk menjadi Kalapas Kelas III Bontang. Belum genap setahun di Bontang, Heru merasa begitu cinta dengan suasana serta masyarakat Bontang. Pasalnya, Pemkot Bontang terbilang sangat peduli dan sudah banyak laporan ke pusat bahwa Lapas Bontang dapat rekomendasi dari Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni untuk peningkatan kelas menjadi Lapas Kelas II. “Saat ini prosesnya memang masih penggodokan, tak hanya itu, Lapas Bontang ditunjuk sebagai tempat untuk study banding,” ucapnya bangga.

Meskipun, Heru sendiri merasa bingung apa yang bisa dijadikan study banding. Tetapi, dirinya menerkanya mungkin dari program, gebrakan, serta komunikasi yang baik dengan Pemkot Bontang, tokoh masyarakat, anggota DPRD Bontang dan FKPM lainnya. Tak hanya itu, Lapas Kelas III Bontang yang sudah over kapasitas dengan 2 petugas masih bisa menjaga suasana yang kondusif dan tanpa kerusuhan. “Walaupun ada pemberitaan miring tentang Lapas Bontang, saya tidak akan marah, tetapi itu justru menjadi koreksi buat saya,” ungkapnya.

Selama menjadi Kalapas Bontang, Heru lebih banyak merasakan sukanya. Untuk dukanya, dia menyatakan hanya karena posisi rumah dinas yang jauh ke pusat Kota Bontang. Namun dirinya bersyukur, sang istri bisa mengerti, walaupun hanya satu bulan sekali ke pusat Kota Bontang.

Kepedulian Pemkot Bontang terhadap Lapas Bontang merupakan anugerah baginya. Pasalnya, Heru mengaku tak pernah menemukan pemerintah yang peduli kepada warga binaan di daerah lain. Sementara di Bontang, pemerintahnya masih mengakui bahwa warga binaan masih merupakan warganya, termasuk kepedulian instansi lain, perusahaan dan anggota DPRD Bontang. “Untuk timbal baliknya, kami pun berusaha memberikan kegiatan yang positif dan menjadikan Lapas Bontang sebagai Lapas terbaik di Kalimantan Timur, untuk mengharumkan nama Bontang juga,” ungkap penghobi petualang itu.

Oleh karena itu, Heru membuka diri jika ada siapapun yang ingin mengetahui tentang Lapas Bontang. Dengan program keterampilan, ekskul untuk warga binaan anak-anak, pihaknya juga berusaha tetap bisa memberikan hak-hak anak. Bahkan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Dinas Pendidikan Bontang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bontang akan dilakukan. “Sebenarnya kegiatannya sudah berjalan, seperti program paket, dan pojok baca, tetapi regulasinya memang belum jalan,” ujar pria dengan hobi offroad ini.

Heru hanya berpesan, siapa pun Anda, jika ingin menjadi orang sukses maka tekunilah pekerjaan dalam bidang apa pun. “Di mana kita berkarya jika dengan benar dan ikhlas, InsyaAllah akan menjadi pakarnya,” pesannya.

Meski terbilang sukses membawa Lapas menjadi yang terbaik di Kaltim, Heru masih merasa apa yang dilakukannya belum maksimal. Sebab impiannya, ingin menjadikan Lapas yang berbasis pesantren, serta membangun rumah hafidz (penghafal Alquran) di dalam Lapas masih belum terlaksana. Sementara untuk program Majelis Lapas Bontang Berselawat sudah berjalan.(***)

TENTANG HERU

Nama: Heru Yuswanto

TTL: Pelaihari, 14 Juni 1973

Alamat: Rumah Dinas Lapas Kelas III Bontang Jalan Prestasi, Bontang Lestari

Orang Tua: Yahya dan Ibu R Suciati

Istri: Nurazizah

Pendidikan:

–         TK Kartika Candra Kirana

–         SDN 2 Pelaihari

–         SMPN 2 Pelaihari

–         SMAN 1 Pelaihari

–         Akademi Ilmu Pemasyarakatan

–         Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara (STIA) Bina Banua Banjarmasin

–         S2 Psikologi Kriminal Universitas Indonesia

sumber berita http://bontang.prokal.co/read/news/11056-tekuni-pekerjaan-bangga-lapas-bontang-jadi-tempat-study-banding.html

[ALUMNI] Rifqoh Ihdayati Sosok Psikolog yang Tetap Utamakan Keluarga

[ALUMNI] Rifqoh Ihdayati Sosok Psikolog yang Tetap Utamakan Keluarga

BANJARMASINPOST.CO.ID – Sebagai seorang psikolog Rifqoh Ihdayati SPsi MAP memiliki visi misi sesuai keahliannya. Setelah kembali ke Banjarmasin seusai meraih gelar psikolog, ia mulai melancarkan visinya untuk mencerdaskan masyarakat namun tetap menjadi seorang ibu rumah tangga yang sukses.

Berbagai kegiatan ia jalani sebagai seorang psikolog dan Kepala Instalasi Pelayanan Psikologi RSUD Ulin Banjarmasin.

Sebagai seorang psikolog ia berharap bisa bermanfaat bagi masyarakat, keluarga khususnya. Visi itu menjadi pengarah kegiatannya sehari-hari.

Berikut petikan wawancara Banjarmasin Post Group dengan Rifqoh Ihdayati:

Bidang apa yang saat ini menjadi fokus dalam kegiatan?
Sejak awal bergabung di RSUD Ulin Banjarmasin, saya pertama masuk dalam Poli Tumbuh Kembang yang merupakan cikal bakal berdirinya instalasi pelayanan psikologi. Di situ lebih banyak kasus berkenaan tentang anak, kekerasan anak, trauma anak dan kini juga lebih banyak fokus pada permasalahan anak dengan mencerdaskan para orang tua dalam mendidik anak. Meski pada dasarnya Sebagi seorang psikolog tidak dibatasi lingkup apa saja, fokus anak dan lain-lain.

Apakah itu sesuai dengan ilmu yang sudah dipelajari?
Sebenarnya penanganan anak tak terlalu banyak saya dapatkan di bangku kuliah, jadi saya mengembangkan wawasan saya tentang anak dari mengikuti perkembanganseminar, pelatihan dan belajar dari buku-buku referensi.

Adakah kesulitan dalam mendalami psikologi berhubungan dengan anak?
Sejauh ini tidak ada kesulitan, karena jika memang ada niat untuk belajar maka halangan takkan berarti.

Sukses menjadi kepala instalasi dan aktif di berbagai kegiatan tentu menghabiskan banyak waktu, bagaimana mengatur jadwal?
Iya sehari-hari saya menjadi seorang PNS dengan jadwal seperti PNS lain. Selain itu juga mengisi seminar dan pelatihan dan mengisi diskusi Radio sebagai narasumber. Namun melihat kini banyaknya kasus anak saya menjadi lebih prihatin dengan anak-anak saya dengan mengurangi beberapa kegiatan di luar, yang suami saya mau pukul lima sore sudah harus ada di rumah.

Cita-cita yang ingin dicapai dari profesi sebagai psikolog?
Saat ini saya memang sedang fokus dan getol terhadap kekerasan anak dan penanganan anak berkebutuhan khusus. Bahkan ini menjadi PR bagi para psikolog di Kalsel untuk mencerdaskan masyarakat dalam memahami proses perkembangan anak.

Adakah saran untuk pemerintah dalam penangan terhadap anak inklusi?
Kini pemerintah terlihat setengah-setengah dalam memberikan penanganan terhadap anak inklusi. Sekolah-sekolah terhadap mereka kini juga sudah berkurang, bahkan kini sekolah anak berkebutuhan khusus kini hanya tinggal tiga sekolah di Banjarmasin. Sementara mereka tak bisa masuk sekolah umum.

Prioritas dalam hidup?
Sebagai seorang perempuan, istri dan anak selain sukses dalam karir, yang menjadi prioritas bagi saya adalah keluarga. Saya tak mau melupakan kodrat saya. Saya tetap harus mendidik anak menjadi istri yang baik. Bahkan jika diharus ditinggalkan saya rela meninggalkan karir saya demi anak-anak. PNS juga ada masa pensiunnya sementara menjadi ibu dan istri tak ada masa waktunya, selamanya. (rii)

Biofile
Nama: Rifqoh Ihdayati SPsi MAP Psikolog
Tanggal Lahir: 28 mei 1979
Suami: Ermanto Dwiatmoko S.Psi M.Si
Anak: – Frida Syifa Salsabila dan Fathi Raditya Faza.

Pendidikan:
– SD Kasuari Banjarmasin (1988-1994)
– SMPN 2 Banjarmasin (1991-1994)
– SMA Muhammadiyah I Yogyakarta (1994-1997)
– S1 di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (1997-2001)
– Program Profesi Psikolog di Universitas Muhammadiyah Surakarta (2001-2003)
– S2 Magister Administrasi Publik di STIA Bina Banua Banjarmasin (2006-2008)

Editor: Muhammad Yamani
ALUMNI STIA BINA BANUA, SYACHRANI  MATAJA BUPATI KOTABARU SUMBANG BUKU

ALUMNI STIA BINA BANUA, SYACHRANI MATAJA BUPATI KOTABARU SUMBANG BUKU

Bupati Kotabaru Drs. H. Syachrani Mataja, MBA, MM menyumbangkan sejumlah buku untuk perpustakaan STIA Bina Banua Banjarmasin. Sumbangan ini dilakukan di Kampus STIA Bina Banua pada tanggal 14 Juni 2008.
Menurut Bupati sebagai alumni STIA Bina Banua sudah sepantasnya memberikan bantuan kepada almamater bagi pengembangan Ilmu dan kepentingan civitas akademika.
Pada Kesempatan ini juga Bapak Syahrani Mataja juga telah menyumbangan dana sejumlah Rp. 50.000.000,- bagi kepentingan proses belajar mengajar dan pengembangan STIA Bina Banua kedepan

H De Yong Adrian Alumni STIA Bina Banua Yang menjadi salah satu Direktur di PT Asuransi Jiwasraya

H De Yong Adrian Alumni STIA Bina Banua Yang menjadi salah satu Direktur di PT Asuransi Jiwasraya

Pada Bulan Pebruari 2008 ini H De Yong Adrian yang merupakan salah satu Alumni STIA Bina Banua dipercayakan menjadi salah satu Direktur di PT Asuransi Jiwasraya, yakni Direktur Pemasaran, tentu sebagai Lembaga Pendidikan yang memberikan wawasan keilmuan khususnya di Bidang Pemasaran merasa bangga memiliki alumni yang dapat berkarir cemerlang.
H De Yong Adrian merupakan orang daerah yang dapat berkarir secara nasional ini menunjukkan bahwa kapasitas beliu benar-benar teruji dan dapat dipertanggung jawabkan.
Selamat H De Yong Andrian semoga STIA Bina Banua dapat mencetak De Yong Adrian lainnya.